Kumaha dinya welah

Ini adalah percakapan antara hilman wildan (dokter yang kalau praktek sore suka ngantuk 👨‍⚕️), pasien skabies tp sudah ada erisipelas di kaki kiri yang sudah dewasa, dandanan mirip personil band indie tp diem wae (ga usah dikasih emoticon da dia mah figuran), plus tetehnya pasien, teteh-teteh anu merasa geulis, rambutna dicat beureum dan kuku nya panjang jiga KD (👱‍♀️). Percakapan ini terjadi setelah anamnesia, pemeriksaan fisik, dan edukasi serta disuruh dirawat inap

👱‍♀️: jadi adik saya teh harus dirawat dok?
👨‍⚕️: iya bu, adiknya harus dirawat karena infeksinya sudah berat
👱‍♀️: jangan panggil ibu dok, teteh weh
👨‍⚕️: iya siap teh
👱‍♀️: dirawatna dimana dok?
👨‍⚕️: ya di sini teh, di RS**
👱‍♀️: ga bisa dirawat di RSUD dok?
👨‍⚕️: ga bisa teh, karena penyakitnya bisa ditangani di RS ini, kalau tidak bisa baru saya rujuk ke RSUD yang tipe B
👱‍♀️: ya dok, pdhl saya pingin dia dirawat di RSUD
Hemmm....tumben, biasanya pasien ga mau dirujuk ke RSUD karena katanya penuh wae
👨‍⚕️: memang kenapa teh ingin dirawat di RSUD? Lebih dekat dari rumah?
👱‍♀️: ga dok, tapi kalau dirawat di RSUD, saya bisa jalan-jalan ke kota kan deket, kalau dari sini mah jauh buat maen dok
👨‍⚕️: 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

Epilog: ternyata harapan tetehnya terkabul, ruangan di RS** lagi penuh jadi pasiennya dirujuk ke RSUD

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Me VS pasien peeling

SpDV dan SpKK memang serupa dan memang sama

Orang Sunda Versus huruf V